Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Happy weekend ..



Malam yang indah dengan ratusan bintang bergantung tanpa ikatan kait di luar sana. Bulan masih sendirian diantara keramaian bintang yang tampak memancarkan sinarnya sendiri . apakah mereka tak sadar bahwa cahaya mereka berasal dari pantulan cahaya bulan. Tentu saja mereka sadar akan hal itu, atau kini mereka hanya berpura-pura untuk tetap dengan pandangan mereka.

Hidup itu sangat indah sobat? Jika kau tahu bagaimana cara kalian memanfaatkannya.

Sebagian besar waktuku kuhabiskan dengan mendengarkan musik, well itu adalah caraku melegakan nafasku yang kadang terasa sesak di sekitar dada. Monoton? Memang tapi inilah alur hidupku.
Aku berharap menemukan tempat lapang yang kosong tanpa siapa-siapa. Aku akan merenung untuk sejenak memikirkan tujuan awalku.

Ketika usahamu tak berarti apa apa , kau takkan mati
Atau ketika senyumanmu tak seikhlas dulu , kau takkan hina
Ketika waktu menghentikan gerakan penamu , kau kalah
Mungkin inilah cara ALLAH mendekapku rindu , ...
Agar aku terbangun ... dan kembali berjalan ....

pm: pedang takkan membunuhmu , rasa yang mematikanmu

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Have a nice month




Pertanyaan singkat yang sealu mengganggu hari-hariku adalah “mau sampai kapan aku terbaring di ruangan pekat ini?” . mungkin lamaku terjebak diruangan ini membuatku tak lagi memikirkan waktu sampai akhirnya kini  bulan telah berganti .. 

Welcome my sweet December ..
Ada sedikit waktu untukku hanya untuk sekedar menyapanya …
Jika keadaan tak memaksaku diam , mungkin saat ini aku sudah beranjak berlari menghampiri  pemilik kebahagiaan dibulan ini . hehe… mungkin aku hanyalah awan colombus yang sering membuatnya kebasahan saat hujan , atau menyembunyikan tangisnya sehingga dia takkan malu berjalan diluar rumah saat hari hujan. Tapi dari ataslah aku hanya mampu mengawasinya , tempat yang amat jauh …
Seringkali hembusan angin meniupku dengan kuat sehingga aku terhempas jauh meninggalkannya, yah hal ini membuatku kehilangan arah . tapi selalu ada mentari pagi yang menuntunku menemukan dimana dia sekarang. Yang kutahu sampai saat ini adalah ‘ikuti sinar kuning sang mentari maka aku akan menemukannya’. Kenapa aku seyakin itu? Jawabannya sangat singkat untukku yaitu “karena aku percaya” .

Desember adalah bulan’nya’ ..
Satu bulan sebelum bulan kami #uhukehemciatciat *taksadarkandiri*
Bulan ini sedikit berbeda dengan bulan desember tahun lalu … bukan karena berhentinya penanggalan suku maya  yang jatuh dibulan dan tahun ini ataupun kegagalan timnas di ajang AFC.  Semua itu sudah tak kunikmati lagi entah sejak kapan. Lupakan.
Aku hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun buat bidadari dunia
Semoga kau selalu diberi kesehatan oleh Allah SWT , wahai pelari handal didalam pikiranku
Semoga Allah SWT memudahkan jalanmu senuntut ilmu dan jalanmu untuk menggapai semua harapan . cita-cita dan keinginanmu , wahai pencuri hati
Doaku akan mengiringi tiap langkahmu shofa …
Ahaha jika kau membaca tulisan ini , jadilah lebih baik oke? Walaupun aku tahu kau sudah amat baik .. aku hanya dapat brdoa untukmu … itulah hal kecil yang dapat ku lakukan saat ini …
“Ketika persimpangan membuatmu ragu
Ketika hembusan angin menggoyahkan pijakanmu
Ketika hantaman persoalan menghujammu
Ketika ejekan memekakan telingamu
Ketika dorongan menjatuhkanmu
Ketika hari melupakmu
Percayalah satu hal wahai engkau …”
Hidupmu akan selalu indah …
Nyanyianmu akan menuntunmu kembali kebulan ini, dengan atau tanpa peristiwa lainnya ,
Aku akan selalu mengikutimu ….

AID MILAD SHOFA SYAHIDAH
KEEP SMILE TO BE YOUR SELF

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Lebay atau ...

Haaaaahmm ... letih dan lesu kini kujalani rentetan hidupku ..
Hariku berubah  mulai ‘saat itu’ , mungkin kini aku harus menjalani hidupku dengan sedikit sisa dari semangatku ..
Memilukan memang, tapi inilah hidup .. dahulu ku sering berjalan berdampingan dengan membawa lembaran kertas berisi ratusan mimpi dan keinginan ‘kami’ selama ini ...     
Kami berjalan melewati semua persimpangan dan gang-gang kecil dengan tetap tersenyum dan berpegangan tangan , beginilah cara kami melewati rintangan dan cobaan yang terbentang menghalau perjalanan hubungan kami ...
Indah ?
Bahkan lebih dari memukau sampai saat itu, kami semakin erat menggenggam kertas bertuliskan mimpi-mimpi kami bersama. Takkan ada yang mampu menggoyahkan keinginan kami saat itu, sesekali kami mengangkat gulungan kertas itu ke angkasa dan berharap Sang Pencipta membaca dan mengabulkan tiap baris dari gulungan kertas kami yang berisi doa-doa kami dimasa depan.
Hari ini matahari tampak lebih redup, cahayanya bahkan tak mampu menembus rerimbunan pohon tua itu .. aku beranjak keluar dari hunianku dan menemui ‘dia’ tak jauh dari arah jalan yang akan kami lalui,
Dari kejauhan wajahnya tampak bersinar bahkan dengan redupnya  cahaya matahari , matanya masih indah saat menoreh kearahku. Tatapan matanya seringkali membuatku tak mampu bernafas , degup jantungku semakin kencang saat senyumannya jatuh untuk menyambut kedatanganku.
”hari ini akan lebih indah, aku yakin...”
Seperti biasa kami saling menggenggam jemari kami, ku genggam tangan halusnya dengan amat erat, namun kurasakan ada sedikit ruang kosong diantara jari kami.
“genggamlah tanganku seerat mungkin.. agar kita mampu melewati jalan ini ..”
Bisikku kepadanya ,
Dia hanya tersenyum, dan kali ini jantungku membeku dengan tatapan hangat mata indahnya, rasanya aku memiliki mimpi lain yang tak ku tuliskan pada kertas impian kami .. mimpi itu ada jauh di dalam bola mata indahnya ...perlahan demi perlahan kami telusuri jalan panjang itu. Kini sesekali ‘ia’ menoreh ke arah lain, aku hanya mampu memberi senyuman kepadanya sembil sesekali ku mencoba menarik perhatiannya dengan sedikit menggodanya . tapi dia hanya tersenyum manis .
Sudah separuh jalan kami lalui, genggaman kami semakin longgar namun secepat mungkin ke genggam jarinya sambil berkata
“masih ingatkah dahulu kita mempunyai mimpi besar untuk suatu hari nanti?”
“ya, aku takkan bisa melupakannya....”
“kita akan selalu bersama kan , untuk mewujudkan mimpi-mimpi ini?” tanyaku sambil tersenyum bahagia ..
“tentu saja, ” kali ini dia menjawab dengan sorot mata tajam , jauh menusuk jiwaku ..
Tak beberapa saat angin berhembus dengan sangat kencangnya, hingga kertas mimpi kami terlepas dari genggaman kami dan jatuh tak jauh dari tempat kami berdiri saat itu. Melihat apa yang terjadi genggamanku padanya semakin kuat dan ku menatap matanya dan berkata,
“aaaah celaka, aku akan mengambilnya sebelum angin membawanya lebih jauh lagi”
“aku akan menunggumu disini” sambar dia , sambil melepas genggamanku pada tangannya saat itu.
Aku berlari dengan kencangnya, untuk mengambil kertas mimpi-mimpi kami. Yang terbentang dipikiranku adalah bagaimana kami bisa melanjutkan tanpa daftar mimpi-mimpi kami yang akan mengantarkan kami ke pintu kenyataan. Lariku berhenti tepat di dekat kertas mimpi kami, spontan aku membungkuk dan menggenggam kertas mimpi kami, kan kutorehkan pandanganku ke arahnya berdiri semula sambil berteriak semangat,
“ lihaaat!! Aku telah mendapatkan kertas mimpi-mimpi kita, dengan ini kita bisa melanjutkan perjalanan ini !! ” mataku kosong tak berkedip, keringatku mulai bercucuran bagai tetesan air hujan, tanganku gemetaran memegangi kertas mimpi kami saat itu...
Kau tak lagi disana, kau menjauh dariku ...
Kau bejalan mundur sambil menutup matamu kearahku ...
Aku kehilangan satu mimpiku yang berada jauh didalam pandanganmu, aku mencoba berlari mendekatimu tetapi langkahku begitu berat.
“kenapa? Ada apa dengan diriku?
Bukankah tujuan kita ada di depan sana ?!! ”
Kau hanya diam, dan mendekati sosok lelaki lain yang berdiri jauh dari jarakku saat itu, kau mendekatinya dan membuka kedua matamu sehingga ku melihat tatapan hangatmu. Namun kali ini bukan untukku...
Aku sadar, aku terlalu sibuk menuliskan mimpi-mimpi kita dimasa depan , ku pikir dengan mimpi akan mengantarkan kita ke dunia kenyataan tapi kini ku hanya mampu tertunduk lemas ...
“ketika ku mencoba untuk terus menjaga mimpi kita,
Kau justru berpaling ...”
Air mataku mulai mengalir sedu dipipiku dan membasahi permukaan tanah diantara kedua kakiku,kakiku tak mampu menopang tubuhku. kini ku tersungkur, rasanya seperti langit menghujam raga ini sehingga ku tak mampu bangkit , aku lelah... dadaku terasa sesak , nafasku mulai tak teratur ..
“kenapa kau berpaling ? dimana janjimu kepadaku ...
Aku tak mampu meneruskan perjalanan ini tanpamu ...
Inilah mimpi kita dahulu ... kau ingat ?!”
Mataku memerah, darahku membeku .kini baru aku sadari aku takkan bisa bangkit hanya dengan mimpi, aku kehilangan dia sebagai pasangan hidupku , hidupku kini akan berantakan
Didalam kekecewaanku, kurobek kertas impian kami. Aku yakin salah satu kata impian kita mampu menyadarkanmu betapa tulusnya cinta ini untuk mendampingimu ...
“yaaaa... ini ! hanya ini yang aku mau kau melihatnya ..
Tolong ingat kembali kata ini...
Aku mohon ....!”
Tangisku semakin menjadi. Mataku tak mampu lagi melihat sosoknya bahkan dari jarak yang tak begitu jauh ... kini aku tersungkur , mataku menggelap.. aku menjatuhkan potongan kecil yang ku robek dari kertas mimpi kita .. kata sederhana namun memiliki makna yang sangat besar bagi hidupku ... kata indah yang selama ini ku banggakan ... kata ungkapan cinta kita ...
Ketika ku tertidur , aku ingin saatku terbangun nanti kau ada disampingku dan membawa potongan kertas ini ... ataukah aku terlalu banyak bermimpi saat itu ?


#ps berlebihan memang story ini terselip lama di draft blogku . Hahaha untungnya aku bukan tipikal cowo lebay hahaha. ya kan ?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Lilin redupku

Hari ini ALLAH memberi pecundang ini sedikit obat penenang untuk mengurangi perihnya lukaku,
walaupun aku sendiri tahu efek obat ini takkan bertahan lama bahkan akan mengalirkan sedikit kerinduanku padanya ..
Sore ini Dua sahabatku datang membawa bingkisan kecil yang diberikan ALLAH kepada mereka , ketika waktu menunjukkan pukul 17.25 .
waktu yang terlalu senja untuk tamu berkunjung , senja yang terlalu gelap bagi pecundang perasaan seperti pribadiku. Terlalu sore untukku berhenti memikirkannya.
Mereka datang untuk meraihku ... Entah sudah berapa lama lubang ini menjebakku, begitu gelap dingin dan sunyi.. hari-hariku ku lalui hanya untuk mengukir namanya disalah satu dinding lubang ini, sesekali ku terbangun dari tidur malamku hanya untuk meraba ukiran namanya didinding lubang ini.
Memang hanya ukiran biasa , tetapi ukiran ini adalah teman terindah yang pernah aku temui, teman hati ini..

mungkin hari ini aku hanyalah pecundang , tapi apa salahnya menjadi pecundang untuk ketulusan cinta ? Aku terlalu lemah? Ya, inilah aku dengan perasaannku, buhkan salahnya dia pergi meninggalkan ku dilubang ini
 sedangkan dia telah sering berkata ..
 “kenapa tidak kita gunakkan tangga tali disebelah sana ? kurasa kita mampu menggunakannya”
Aku hanya tersenyum sambil memegang jemarinya dan berkata “tali tak cukup kuat dilalui 2 orang , jika salah satu naik yang lainnya akan terjebak..
” Ya, inilah aku sekarang ... pecundang perasaan yang terjebak lubang pekat ini, tapi aku menikmatinya, karena sering kali suara tawanya terdengar di atas sana , yah aku sadar tawa manisnya bukan untukku melainkan sosok lain diatas sana ... Tapi aku senang mendengarnya , indah dan mensejukkan luka ini ... 
 Aku hanya terpejam dengan luka didadaku. Tidak .. maksudku jauh didalam dadaku .. bukan luka gores yang kurasakan , entahlah rasanya seperti tetahan benda besar.. sulit bernafas dan terkadang hal ini membuatku menangis layaknya anak berumur 3 tahun ... tiap kali selesai menangis aku mampu tertidur pulas sampai kuningnya cahaya mentari menyadarkanku bahwa lubang ini tak terlalu dalam, cukup datar . aku bahkan bisa melewatinya dengan memanjat..

Aku sudah berpikir untuk keluar lubang ini berkali kali,tapi sering ku pendam karena aku takkan mampu menatap mentari lagi ... belum lagi lukaku masih cukup basah .. ya mungkin ketika lukaku sudah kering ... 2 sahabatku datang malam itu , membawa kado kecil dari ALLAH, mereka tersenyum lebar kepadaku sambil sesekali melambaikkan tangannya kepadaku. Secepat itu aku mencoba menutup luka didadaku .. ya aku tahu tak terlihat ,bodohnya aku mencoba menutupi luka yang tak terlihat .
Kedua sahabatku menurunkan tangan mereka mencoba meraihku keluar dari lubang ini ..
 “raihlah tanganku dengan erat sahabat, ” “haha bisakah kalianlebih cepat menemuiku?” “maafkan kali sahabat, kami bahkan sulit membaca jejak langkahmu”
 yaa.. itulah aku , dengan hidupku saat ini

Kuraih uluran tangan mereka, mereka menarikku mendekati tepi lubang itu, mereka telah memberikan obat dari ALLAH, obat yang menenangkan perasaanku . bukan terletak pada kantong saku mereka, atau tergantung di kantung celana mereka. Obat itu terletak di antara pipi-pipi mereka. Ya inilah obatku hari ini , senyuman mereka ... itu yang kubutuhkan saat ini.sesekali mereka memandangku heran karena aku berhenti memegang erat tangan mereka,

“hei apa yang kau lakukan? Cepatlah keluar”
“bisakah kalian melepaskanku sekarang...” “apa kau bergurau? Kau hampir keluar dari lubang ini teman”
“ya aku tahu, tapi aku tak bisa keluar sekarang”
“kau gila , kenapa tidak??”
“seseorang akan datang kesini untuk menemuiku, dan memberiku seutas tali untuk menolongku keluar dari lubang ini” “apa kau serius? Dimana dia sekarang?”
“dia sedang mencarinya , aku yakin ... aku akan tetap disini sahabat, mungkin dia sedang bermain sekarang.. aku mengerti perasaannya , betapa jenuhnya terjebak dilubang ini bersama ku selama ini”
“sampai kapan kau akan menunggunya ?”
“sampai dia letih bermain diatas sana .. sampai dia rindu terjebak kembali dilubang ini bersamaku, selama dia bermain aku akan menunggunya disini , menyelesaikan ukiran namanya didinding lubang ini, sampai suatu saat nanti ... dia kembali , aku akan menjadikan lubang ini istana baginya , sehingga dia akan enggan untuk keluar dari lubang ini ”

Aku dan semua mimpiku ..
Dia dengan setengah mimpiku ..
Janjiku untuk”nya” ..
Janji”nya” untuk’nya’ ..
Malam ini sakitku terasa kembali, bahkan lebih sakit... Satu hal yang selalu kupikirkan adalah
bukankah ini sudah saatnya dia pulang...

Terima kasih untuk kedua sahabat terbaikku,     
Muhammad Hikmah Nikmatullah & Sabilal muhtadin

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS