Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Lilin redupku

Hari ini ALLAH memberi pecundang ini sedikit obat penenang untuk mengurangi perihnya lukaku,
walaupun aku sendiri tahu efek obat ini takkan bertahan lama bahkan akan mengalirkan sedikit kerinduanku padanya ..
Sore ini Dua sahabatku datang membawa bingkisan kecil yang diberikan ALLAH kepada mereka , ketika waktu menunjukkan pukul 17.25 .
waktu yang terlalu senja untuk tamu berkunjung , senja yang terlalu gelap bagi pecundang perasaan seperti pribadiku. Terlalu sore untukku berhenti memikirkannya.
Mereka datang untuk meraihku ... Entah sudah berapa lama lubang ini menjebakku, begitu gelap dingin dan sunyi.. hari-hariku ku lalui hanya untuk mengukir namanya disalah satu dinding lubang ini, sesekali ku terbangun dari tidur malamku hanya untuk meraba ukiran namanya didinding lubang ini.
Memang hanya ukiran biasa , tetapi ukiran ini adalah teman terindah yang pernah aku temui, teman hati ini..

mungkin hari ini aku hanyalah pecundang , tapi apa salahnya menjadi pecundang untuk ketulusan cinta ? Aku terlalu lemah? Ya, inilah aku dengan perasaannku, buhkan salahnya dia pergi meninggalkan ku dilubang ini
 sedangkan dia telah sering berkata ..
 “kenapa tidak kita gunakkan tangga tali disebelah sana ? kurasa kita mampu menggunakannya”
Aku hanya tersenyum sambil memegang jemarinya dan berkata “tali tak cukup kuat dilalui 2 orang , jika salah satu naik yang lainnya akan terjebak..
” Ya, inilah aku sekarang ... pecundang perasaan yang terjebak lubang pekat ini, tapi aku menikmatinya, karena sering kali suara tawanya terdengar di atas sana , yah aku sadar tawa manisnya bukan untukku melainkan sosok lain diatas sana ... Tapi aku senang mendengarnya , indah dan mensejukkan luka ini ... 
 Aku hanya terpejam dengan luka didadaku. Tidak .. maksudku jauh didalam dadaku .. bukan luka gores yang kurasakan , entahlah rasanya seperti tetahan benda besar.. sulit bernafas dan terkadang hal ini membuatku menangis layaknya anak berumur 3 tahun ... tiap kali selesai menangis aku mampu tertidur pulas sampai kuningnya cahaya mentari menyadarkanku bahwa lubang ini tak terlalu dalam, cukup datar . aku bahkan bisa melewatinya dengan memanjat..

Aku sudah berpikir untuk keluar lubang ini berkali kali,tapi sering ku pendam karena aku takkan mampu menatap mentari lagi ... belum lagi lukaku masih cukup basah .. ya mungkin ketika lukaku sudah kering ... 2 sahabatku datang malam itu , membawa kado kecil dari ALLAH, mereka tersenyum lebar kepadaku sambil sesekali melambaikkan tangannya kepadaku. Secepat itu aku mencoba menutup luka didadaku .. ya aku tahu tak terlihat ,bodohnya aku mencoba menutupi luka yang tak terlihat .
Kedua sahabatku menurunkan tangan mereka mencoba meraihku keluar dari lubang ini ..
 “raihlah tanganku dengan erat sahabat, ” “haha bisakah kalianlebih cepat menemuiku?” “maafkan kali sahabat, kami bahkan sulit membaca jejak langkahmu”
 yaa.. itulah aku , dengan hidupku saat ini

Kuraih uluran tangan mereka, mereka menarikku mendekati tepi lubang itu, mereka telah memberikan obat dari ALLAH, obat yang menenangkan perasaanku . bukan terletak pada kantong saku mereka, atau tergantung di kantung celana mereka. Obat itu terletak di antara pipi-pipi mereka. Ya inilah obatku hari ini , senyuman mereka ... itu yang kubutuhkan saat ini.sesekali mereka memandangku heran karena aku berhenti memegang erat tangan mereka,

“hei apa yang kau lakukan? Cepatlah keluar”
“bisakah kalian melepaskanku sekarang...” “apa kau bergurau? Kau hampir keluar dari lubang ini teman”
“ya aku tahu, tapi aku tak bisa keluar sekarang”
“kau gila , kenapa tidak??”
“seseorang akan datang kesini untuk menemuiku, dan memberiku seutas tali untuk menolongku keluar dari lubang ini” “apa kau serius? Dimana dia sekarang?”
“dia sedang mencarinya , aku yakin ... aku akan tetap disini sahabat, mungkin dia sedang bermain sekarang.. aku mengerti perasaannya , betapa jenuhnya terjebak dilubang ini bersama ku selama ini”
“sampai kapan kau akan menunggunya ?”
“sampai dia letih bermain diatas sana .. sampai dia rindu terjebak kembali dilubang ini bersamaku, selama dia bermain aku akan menunggunya disini , menyelesaikan ukiran namanya didinding lubang ini, sampai suatu saat nanti ... dia kembali , aku akan menjadikan lubang ini istana baginya , sehingga dia akan enggan untuk keluar dari lubang ini ”

Aku dan semua mimpiku ..
Dia dengan setengah mimpiku ..
Janjiku untuk”nya” ..
Janji”nya” untuk’nya’ ..
Malam ini sakitku terasa kembali, bahkan lebih sakit... Satu hal yang selalu kupikirkan adalah
bukankah ini sudah saatnya dia pulang...

Terima kasih untuk kedua sahabat terbaikku,     
Muhammad Hikmah Nikmatullah & Sabilal muhtadin

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS