Good night young soul , have a nice insomnia huehue …
Debu dimana mana , dibawah meja , sela sela jejeran buku
tebal dan peraduan karpet yang telah kusam dibalut gelapnya abu jalanan. Jakarta
ibukotaku ibukota nyata bagi para pencari ketenaran . perspektif semu tentang jaring
roda pekerjaan seakan memandu para pendatang untuk ‘tak sekedar’ datang , namun
lebih kepada bertaruh nyawa dan harta kebahagian keluarga dihaluan bukit
tercuram yang kukenal dengan Jakarta. Sorot
ibukota tercinta yang layak di katakana tempat pencampuran surga dan neraka
duniawi. Kau tahu berapa banyak majlis ilmu agama berdiri kokoh di daratan Jakarta?
Entahlah yang pasti peringatan hari besar seperti mauled , muharrom , tabligh
akbar serta pengajian rutin adalah segelintir hal kecil yang mampu menentramkan
hatiku hatinya hati kami. Aku terjaga lebih lama saat dengan mudahnya acara
hari besar umat islam dirayakan dengan hingar bingar rasa khidmat aku
merasakan.. tentram bukan melihat bagaimana para guru-guru besar meyampaikan
syair syair qolbu dengan fitri , aku menikmatinya . saat dimana terdengar riuk
pikuk klakson para raksasa jalanan yang dengan angkuhnya menandingi lantunan music
di earphone ku tiap siang hari , aku mendengarnya ..
Jakarta , masih dengan wajah yang lama .. senyumannya masih
merapat di pojok gedung DPR dan MPR . Jakarta malang Jakarta sayang .. sibukkah
engkau memikirkan makanmu hari esok atau kau enggan membicarakan bagaimana
rumput hijau berubah menjadi balok beton jalanan , atau bagaimana tanah merah
di tubuhmu tak lagi Nampak dan berganti sisik hitam aspal yang keras lagi kokoh
. Jakarta ku kini padumu bukanlah ingin DIA . nafsu para pencakar kenikmatan
alam atau bisikkan jahanam para penikmat lara , entah sampai kapan harus malu
ditanggung air Bah mu , atau api yang lapar mencoba menenggelamkan ambisi para
pencuri hati disana . entah sampai kapan lubang mengagah besar dibiarkan jadi
pelabuhan para fakir ilmu , atau pegawai sederhana yang dikorbankan karena
kejujurannya , entah sampai kapan sayap merpati enggan bersolek didalam sangkar
emasnya atau kupu kupu yang lebih memilih hinggap mati di jaring tarantula ,
entah sampai kapan kaisar pemimpi takut untuk kembali ke tempat tidurnya bahkan
untuk sekedar berdoa , batang tenggorokannya seakan serat dengan ambisi di
dalam matanya entah sampai kapan ….
Mungkin 24 jam ku takkan menggantikan satu detik milikmu ,
atau satu hariku takkan mampu membangunkan ambisi para penikmat kelelahan . hanya
jikalau saja kita mau bangkit … mungkin
aku akan ceritakan sedikit rahasiaku tentang Jakarta … tak perlu benar benar
mendengarnya atau mengangguk paham seraya menoleh pasti. Jutaan mimpi Jakarta kini
masih tertidur dibawah pemimpin dzalim , yang takut membangunkan macan-macan
kebenaran ….






